Friday, December 2, 2011

ADAB MAKAN KANAK-KANAK PRASEKOLAH


  1. Basuh tangan
  2. Dimulai dengan Bismillah
  3. Diikuti dengan doa mula makan
  4. Makan dengan tangan kanan.
  5. Makan dengan tertib dan tidak berebut-rebut
  6. Makanan lembut diikuti makanan keras
  7. Makan dengan mengunyah sehingga lumat
  8. Tidak digalakkan berbual
  9. Tidak bergurau semasa makan
  10. Gunakan alas meja
  11. Tidak membazir makanan
  12. Masukkan kerusi ke dalam meja jika makan dimeja
  13. Buang sisa makanan ke dalam tong sampah
  14. Bantu hidangkan makanan
  15. Minum air dan makan buah selepas 10 minit selesai makan
  16. Membaca doa selepas makan

Thursday, December 1, 2011

Renungan Jumaat: Selamat Tahun Baru 1433 H, Salam Maal Hijrah

B
ulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram,” (QS. At Taubah: 36).
Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenali sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan sebarang bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang, bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan.
Bulan Muharram memiliki banyak keistimewaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan Nabi Musa as dan Bani Israil dari tentera Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai rasa syukur atas pertolongan Allah.
M
asyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda: Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Nabi saw ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, iaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agung iaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw berkata, “Aku lebih berhak mengikuti Musa as daripada mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa” (HR Bukhari).
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)
Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw memerintahkan pada umatnya agar berbeza dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura.
Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, iaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, iaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah saw memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para shabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insyaAllah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).
L
andasan puasa tanggal 11 Muharram didasarkan pada dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai langkah berjaga-jaga jika terjadi kesalahan dalam pengiraan awal Muharram.
Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadist, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan.
Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Berbuat baik dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan bila-bila saja. Bagaimanapun tidak ada sandaran yang kuat mengaitkan menyayangi anak yatim hanya pada bulan Muharram.
Apa yang lebih penting kita mengambil peluang dan kesempatan memulakan kehidupan dipermulaan tahun baru hijrah dengan niat, azam dan perancangan yang betul dan tepat serta berhijrah secara total ke arah hidup yang lebih baik dan bermakna.

Renungan Jumaat: Menghadapi Ujian dan Dugaan...


T
iap manusia yang hidup di dunia tidak terlepas menerima berbagai ujian. Ujian itu datang dalam berbagai bentuk dan rupa hingga kadangnya memungkinkan kita tewas.Namun sebenarnya, agama kita sudah memberikan petunjuk untuk kita menyelesaikan berbagai ujian kehidupan tersebut, diantaranya:

Pertama, kita harus yakin bahwa cubaan itu merupakan ekspresi cinta Allah pada hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala memberikan cubaan agar kita menjadi lebih dewasa dan matang dalam mengarungi kehidupan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik maka ia diberi-Nya cobaan.” (HR. Bukhari)

Kedua, yakini bahwa makin besar dan banyak cubaan yang Allah turunkan kepada kita, makin besar pula pahala dan sayang Allah yang akan dilimpahkan kepada kita jika kita boleh menyelesaikan setiap ujian itu secara baik. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya cubaan. Sesungguhnya apabila Allah Ta’ala itu mencintai suatu kaum maka Ia mencubanya. Barang siapa yang rela menerimanya, ia mendapat keridhaan Allah, dan barang siapa yang murka, maka ia pun mendapat murka Allah.” (HR. Tirmidzi)

Ketiga, yakinlah bahwa setiap ujian itu akan menghapuskan dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Abu Sa’id dan Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang muslim yang tertimpa penderitaan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan, bahkan hanya terkena duri sekalipun, semuanya itu merupakan kafarat (penebus) dari dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat, kita harus selalu berpikir positif bahwa apapun yang menimpa diri kita akan menjadi kebaikan. Abu Yahya Shuhaib bin Sinan berkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh menakjubkan sikap seorang mukmin itu, segala keadaan dianggapnya baik dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu lebih baik baginya, dan apabila ditimpa penderitaan, ia bersabar, maka itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim)

Kelima, kita harus yakin bahwa setelah dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al Insyirah ayat 5-6: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Ingatlah, janji Allah pastilah benar.

Keenam, kita harus selalu optimis bahwa kita bisa menyelesaikan setiap ujian yang Allah berikan, kerana Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Sikap optimis melahirkan energi yang tersembunyi dalam diri kita, karena itu optimis berupaya menjadi bahan bakar untuk menyelesaikan segala persoalan. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ketujuh, kita harus menghadapi ujian dengan usaha dan doa. Kerahkan segala ikhtiar untuk menyelesaikan setiap ujian, dan bingkai usaha itu dengan doa. “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyirah: 7–8).

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doamu.” (QS. Al-Mu’min: 60)